UANG ternyata bukan SEGALANYA

Aku terhenyak ketika seorang teman menceritakan nasib seorang pasien, setelah ia membaca berita. Pasien tersebut ditolak oleh sebuah rumah sakit karena tidak membawa sepeser uang untuk periksa. Hal tersebut mengganjal pikiranku ketika aku bermenung. Rumah sakit yang notabene perusahaan “kemanusiaan” dengan tega menelantarkan orang yang membutuhkan pengobatan hanya karena benda yang disebut dan dipuja, yaitu UANG.
Lha… ke mana gerangan makhluk yang disebut KEMANUSIAAN. Tampaknya kemanusiaan masih bergaul dengan orang-orang yang berduit. Sementara orang-orang yang tidak punya alias melarat tidak pernah digauli oleh makhluk yang disebut kemanusiaan. Bahkan karena terlalu akrab pergaulan antara kemanusian dengan orang-orang berduit, kemanusiaan semakin menjauh dari orang miskin… Mengapa???? Tampaknya orang-orang lebih mendewakan uang karena uang adalah segalanya. Segala sesuatu yang ada di dunia dapat terbeli dengan uang yang dimiliki. Baik tangible goods maupun intangible. Nah kalau sudah begini runyam karena uang dijadikan tolok ukur. Banyak orang berpandangan bahwa bahwa orang yang berhasil adalah orang yang punya rumah besar, mobil, tanah, investasi, dan sebagainya yang berbau materi keduniawian. Bagaimana mendapatkan semua kemerlap dunia itu? Jawabannya hanya satu dengan UANG.
Orang berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik primer, sekunder, tersier, bahkan mungkin kuarter. Dari usaha yang baik-baik sampai dengan usaha yang tidak baik.
Tampaknya belakangan ini banyak yang berusaha dengan cara yang tidak baik, eksploitas sumber daya alam tanpa memperhatikan bagaimana cara pemuliaan kembali sumber daya alam tersebut, korupsi yang belakangan ini laris menjadi komoditas berita bagi media masa, memeras orang lain, merampok, menipu, bahkan sampai menjual manusia. Semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan UANG (baca: demi uang).
Saya hanya membayangkan, andaikan semua kebutuhan manusia sudah terpenuhi, lalu, apa yang akan mereka lakukan???
Saya juga membayangkan, apabila alam sudah rusak, apa yang dapat kita nikmati? gunung sudah gundul tidak nyaman untuk di lihat, tanah sudah tidak dapat lagi ditanami karena pengolahan yang salah, air sudah tidak dapat kita minum karena tercemar, dunia semakin panas karena pohon perindang sudah habis, lalu apa yang dapat kita lakukan??? Semua akan terkena akibatnya baik yang berduit maupun yang tidak berduit.
Kalau itu yang terjadi maka dunia diambang kehancuran karena ulah manusia yang lebih “mendewakan uang” tanpa memikirkan akibatnya bagi anak-anak kita kelak. Kehancuran dunia akan datang secara perlahan kalau kita tidak segera bersahabat dengan alam, bersahabat dengan kemanusiaan yang sejati.
Ada sesuatu yang lebih penting dari UANG dan mendesak perlu kita lakukan. Uang hanyalah sebagai sarana bukan SEGALANYA. Kalau daun terakhir yang tersisa untuk kita makan dan tetes air terakhir yang dapat kita minum, maka kita baru menyadari bahwa UANG TERNYATA BUKAN SEGALANYA.

Bagaimana menurut anda

One Response

  1. setuju…pak!!!! tapi gmn yach skrg apa-apa juga pake uang????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: