Pendidikan (2)

Setelah pulang dari kerja, biasa, anak-anakku sembunyi. Kemudian aku berpura-pura mencari mereka. Aku cari mereka di kamar mandi, tempat tidur, halaman, bahkan di almari baju pun terkadang aku pura-pura mencari mereka. Mereka akan tertawa polos manakala aku tidak berhasil menemukan mereka. Sekelumit tentang keceriaan anak-anak yang masih polos.

Sesaat setelah kami bertemu, anak-anakku selalu minta aku untuk menciumnya. “Cium Pak…” kata mereka. Aku kemudian mencium mereka. Terkadang kami juga menggoda ibu mereka, “Kasihan ya.. ibu tidak kita cium, mari kita lomba untuk mencium ibu.. Satu…. dua…. tiga….” Wah Bapak kalah lagi kataku. Kami semua tertawa gembira, terlebih aku. Seakan capai seharian keluar rumah terobati.

Biasanya pada saat kami makan malam, aku bertanya kepada anakku tentang pelajaran sekolah hari itu. Setelah makan kemudian aku mengajak anakku untuk belajar. Terkadang rasa malas belajar anakku muncul. Hal ini bertolak belakang dengan ketika dia masih TK atau SD kelas 1. Sering kali aku dengar dari jawaban atas ajakanku “bosan” “malas” “nggak mau”. Anakku juga terkadang memberikan jawaban dengan bahasa tubuh yang menyatakan bahwa dia tidak mau belajar.

Aku sungguh berpikir, mengapa hal ini terjadi? Mungkinkah lingkungan keluarga tidak mendukung anak untuk belajar? atau lingkungan masyarakat yang tidak mau peduli terhadap pendidikan anak? atau justru lingkungan sekolah yang memberikan beban kurikulum terlalu berat bagi terdirik?

salah satu atau salah dua, bahkan salah tiga dari lingkungan tersebut memungkinkan timbulnya rasa keingintahuan anak (dalam arti belajar). Beberapa cara yang pernah aku coba untuk membelajarkan anakku adalah
1. belajar dengan menghadap setumpuk buku-buku pelajaran yang akan dipelajari di sekolah esok hari. Cara ini efektif hanya untuk beberapa saat. Tidak lebih dari 30 menit, anak tidak lagi mau konsentrasi terhadap apa yang dihadapinya. Anak mengeluh… “udah ya pak, belajarnya…” Aku terkadang memaksa dia dengan mengatakan “mbok sebentar lagi.. ini tinggal sedikit lagi kok, paling 5 menit kalau benar-benar konsentrasi, pasti akan selesai….”
2. belajar sambil bermain. cara ini juga aku tempuh manakala anak sedang bermain, aku beri beberapa pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran yang ada di buku catatannya. Dengan cara ini anak belajar agak lama. Namun kelemahan yang terjadi adalah anak seperti robot. Anak dijejali berbagai macam pengetahuan, anak diminta menghafal banyak materi. Dengan cara ini, daya ingat anak tidak begitu lama. Hal ini pernah aku cek dengan memberikan pertanyaan yang sama pada hari-hari berikutnya. Anak tidak ingat lagi. Dengan cara ini, implementasi pengetahuan pada kehidupan tidak mendapat ruang. Kecenderungan membentuk anak yang suka menghafal materi pelajaran.
Di sisi lain, aku menginginkan anakku dapat hidup dengan apa yang ia miliki. Apakah dengan cara ini tepat?
Aku juga mengoreksi diri sendiri, bukan keinginanku pada anak yang aku dorong, namun keinginan anak pada anak itu sendirilah yang seharusnya aku dorong. Anak menjadi dirinya sendiri, bukan foto kopi dari orang tuanya.
3. Menunjukkan hal-hal yang real pada anak. Dengan cara ini aku lebih mudah mengajari anak. Daya ingat anak lebih dapat terjaga. Anak merasa santai dalam menerima hal-hal yang aku ajarkan. Mungkin karena abstraksi anak masih terbatas sehingga manakala diberi contoh real, abstraksi anak dapat terbantu.

Dari sisi lingkungan, menurut saya tidak ada masalah.

Dari sisi sekolah, alangkah terkejutnya aku, materi kelas dua sekolah dasar sudah cukup rumit. Apalagi anak dijejali berbagai pengetahuan khususnya menyangkut ranah kognitif pada tingkatan pengetahuan (ingatan; dalam taksonomi bloom). Wah sungguh mengerikan.

Aku hanya berpikir, apakah materi yang cukup mengerikan itu dapat dijadikan bekal untuk hidup anak kelak? Mengapa aku bertanya demikian? Ranah yang ditekankan dalam pendidikan persekolahan saat ini lebih menitikberatkan pada ranah kognitif, sementara ranah afektif dan psikomotorik kurang diperhatikan (bukan tidak berarti tidak diperhatikan; tetap diperhatikan namun proporsinya masih kurang).

Hal ini didukung oleh reaksi masyarakat yang getol dengan penolakan ujian nasional. Apakah ujian nasional juga memperhatikan ranah afektif dan psikomotorik? Apakah ada kesempatan bagi siswa untuk memberikan jawaban berdasarkan pengalaman yang dimiliki?

Atau secara sederhana, apakah lulusan persekolahan dapat hidup begitu dia lulus? Silakan Bapak/Ibu menjawabnya.

Atau rancangan kurikulum dan implementasi kurikulum sudah sesuai dengan pembangunan manusia Indonesia?

Atau adakah guru sering mengajar siswa di luar kelas dan memperhatikan keadaan di lingkungannya?

Berbagai indikator dapat ditunjukkan untuk mengatakan bahwa pendidikan persekolahan lebih mengagungkan ranah kognitif. Nah… lalu apa jadinya? rasa dan gerak anak kurang terlatih, anak menjadi “kurang berperasaan” dan “kurang gesit alias lamban”. Apakah ini lulusan persekolahan yang semacam ini dapat menjadi motivator pembangunan?

Mereka lebih banyak berbicara tentang pengetahuan yang dia kuasai, namun hanya sekedar berbicara. Untuk melakukan aksi..? nanti dulu….

Apabila ditinjau dari brain based learning, sisi kognitif hanya mengembangkan otak kiri saja. otak kanan tidak mendapat perhatian. Hal ini berakibat pada pertumbuhan otak kiri dan kanan tidak seimbang. Nah Ketidakseimbangan sudah dimulai dari otak kita sendiri. Bagaimana di masyarakat kita?

3 Responses

  1. Iya udah gethu dari ranah kognitif aja, kadang masih ngaco

    Saya pernah nemu anak yang baru belajar pecahan, sama gurunya dikasih soal sejenis 5/7+4/6 pakai cara kali silang. Orang anaknya belum ngerti makna pecahan, jadi kadang bahkan tahapan2x pembelajaran pun gak lengkap.

  2. terima kasih infonya

  3. Anak kecil bukan miniatur orang dewasa, kita sudah tau kalau setiap anak sangat bervariatif dalam memahami pelajaran, nah kita sebagai guru yang harus memahami murid, buat guru2 lakukan Class Action Research ya……………….. lakukan buktikan. Maju terus pendidikan Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: