Refleksi Tentang Pendidikan (1)

Tulisan ini diilhami oleh anak saya yang kebetulan menjadi siswa di sebuah TK swasta di Yogyakarta.

Pada awalnya saya berharap memasukkan anak saya ke TK agar anak saya dapat berelasi dan bersosial dengan teman-teman sebayanya. Di samping itu, saya berharap bahwa anak saya mendapat cukup banyak kesempatan bermain di bawah bimbingan seorang pendidik (guru).
Satu minggu pertama, anak saya diperbolehkan ditunggui orang tuanya. Pada minggu-minggu berikutnya pihak sekolah tidak memperbolehkan kami untuk menunggui. Kami menuruti saja permintaan sekolah. Namun beberapa bulan berjalan, anak saya mengerjakan PR menulis angka maupun huruf. Hal ini saya maklumi, mungkin ini sebagai pengenalan angka dan huruf pada anak. Pada tahun kedua, anak saya diminta untuk membaca, menulis kalimat, berhitung. Saya sempat bertanya pada seorang guru, mengapa pendidikan di TK sudah diajari menulis, membaca dan berhitung? bukankah itu diajarkan pada kelas 1 SD? Apakah hal itu tidak mengurangi kesempatan anak untuk bermain dan bersosialisasi dengan sesama?
Jawaban yang saya peroleh dari guru adalah ketika anak masuk SD, SD akan menguji kemampuan siswa membaca, menulis dan berhitung dalam suatu tes masuk SD. Apabila nilai tes tidak sesuai dengan yang ditentukan, maka siswa tersebut tidak diterima di SD. Mungkin hal inilah yang menyebabkan para guru TK berlomba-lomba “menjejali” pengetahuan kognitif agar lulusannya dapat diterima di SD. Guru-guru TK tampaknya lebih menekankan pada outputnya agar lulusannya bisa diterima di SD. Apabila lulusannya sudah dapat membaca, menulis dan berhitung dengan baik, maka TK tersebut akan dikatakan sebagai TK yang bermutu. Alangkah malangnya nasib anak-anak TK….
Menurut pendapat saya, kebijakan semacam ini tidak tepat. Hal ini didasarkan atas usia siswa TK adalah usia bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Porsi pengetahuan yang diberikan kepada siswa akan lebih baik bila lebih sedikit daripada pengembangan afeksi dan motorik siswa. Pada usia TK, anak akan lebih mudah dibentuk dan ditanamkan nilai-nilai universal. Hal ini tidak mengesampingkan pentingnya pengetahuan, pengetahuan itu penting, tetapi ada waktunya yaitu pada SMP. Pada usia TK, anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi angannya.
Di samping penanaman nilai-nilai kehidupan, pendidikan di usia dini akan lebih baik diisi dengan pembentukan karakter yang nantinya akan membentuk karakter bangsa. Pendidikan karakter akan lebih baik bila dilakukan dengan kasih dan sayang. Guru TK berusaha menumbuhkan rasa empati siswa sehingga anak dapat mengerti dan memahami orang lain.
Pembentukan karakter akan berhasil jika orang tua juga diajak untuk bersama-sama dengan sekolah membentuk karakter anak. Dengan demikian, orang tua tidak perlu disuruh pulang (tidak diperbolehkan menunggui anaknya). Orang tua justru diajak bersama-sama mendidik anak. Dengan demikian tercipta sinergi antara sekolah dan masyarakat. Perlu ditegaskan bahwa pendidikan pertama dan utama bagi anak adalah di Keluarga. Orang tua perlu diajak mendidik anaknya dengan kasih sayang dan tanpa kekerasan. Justru pendidikan dengan kekerasan akan membentuk pribadi yang penakut, defensif, pemberontak, pendendam. Tentu saja kita tidak mau anak kita menjadi seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: