Budaya

Aku tersadar dan terkejut ketika aku omong-omong dengan beberapa teman yang peduli pada budaya. Seorang teman menyatakan bahwa bahasa daerah yang ada di seluruh Indonesia berjumlah ribuan bahkan separoh di antaranya ada di daerah Indonesia Bagian Tengah dan Timur. Oh… alangkah banyaknya jumlah bahasa daerah di Indonesia ini. Sungguh kaya….
Teman tersebut menyatakan pula bahwa bahasa yang memiliki sistem huruf hanya beberapa. Salah satunya adalah bahasa Jawa, yaitu ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga. Jumlah huruf tersebut ada 20 buah, itu belum termasuk sandhangannya. Pertanyaan dari teman saya sangat sederhana: Mengapa sistem huruf tersebut tidak digunakan oleh banyak orang? Kita malah menggunakan sistem huruf dari negara lain, misalnya Huruf Latin. Huruf-huruf Jawa jarang (atau bahkan tidak pernah) dipakai oleh banyak orang yang notabene mengaku berasal dari suku Jawa. Di Yogyakarta, tulisan tersebut banyak ditemui sebagai nama jalan atau di Kraton. Itu baru sebagian kecil dari suku yang ada di Indonesia. Belum suku-suku yang lain yang memiliki sistem penulisan sendiri.
Lebih jauh lagi, sedikit orang yang mau masuk ke program studi yang berkaitan dengan bahasa / budaya. Sedikit dari generasi muda yang mau mempelajari dan mendalami budaya (dalam hal ini: Bahasa Daerah). Sungguh sangat mengerikan…. Bahasa daerah kita semakin lama semakin tercabut dari akarnya. Mungkin anak atau cucu kita kelak harus belajar bahasa daerah di negara lain. Generasi muda tidak mau peduli dengan hal ini. Apakah pendidikan yang diberikan orang tua atau guru kepada generasi muda salah? ataukah orang tua atau guru tidak dapat menggugah minat generasi muda untuk mendalaminya? ataukah ada sesuatu yang salah dalam dunia pendidikan kita?
Jarang ada generasi muda yang berbicara dengan orang tuanya (misalnya di suku Jawa) yang menggunakan bahasa krama apalagi menggunakan bahasa krama inggil. Penghormatan generasi muda pada orang yang lebih tua sudah mulai luntur.
Dalam beberapa seminar, istilah-istilah yang sering muncul adalah istilah-istilah dalam bahasa Inggris. Mungkin kalau kita lancar menggunakan bahasa Inggris akan dianggap keren, modern. Namun harus disadari bahwa apabila kita meninggalkan budaya kita, kekayaan yang ada di daerah kita. Ini merupakan suatu pengorbanan yang sungguh sangat luar biasa besarnya. Sebenarnya apa yang akan kita cari dengan menggunakan istilah-istilah bahasa asing?
Marilah kita mulai mencoba untuk menghidupkan budaya-budaya yang ada di daerah kita masing-masing yang sebenarnya sangat sarat dengan makna akan nilai-nilai kehidupan. Sebagai contoh: tarian daerah, alat-alat musik daerah, bahasa, wayang, lagu daerah, adat istiadat, hukum adat dan sebagainya. Mari kita hidupkan kembali pada generasi muda yang sedang keracunan budaya asing.
Setuju????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: