Minyak…. minyak…. nasibmu

6 huruf yang membikin heboh dunia perekonomian. MINYAK.

Kata minyak mengandung banyak makna. Sehingga kalau kita mengatakan minyak, maka interpretasi orang bisa bermacam-macam: minyak bumi, minyak tanah, bensin, solar, minyak rambut, minyak goreng bahkan minyak “jelantah” (minyak goreng bekas).

Beberapa bulan yang lalu, kita diributkan masalah minyak goreng. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang mengeluh tentang tingginya harga minyak. Bukan hanya ibu-ibu, para penjual gorengan dan warung-warung pun mengeluh karena tidak bisa menutup modal. Untuk bisa menghasilkan laba, maka mau tidak mau mereka menaikkan harganya. Kenaikan harga ini berkonsekuensi turunnya permintaan masyarakat akan makanan yang terkait dengan minyak goreng.

Untuk mengantisipasi tingginya harga minyak goreng, pemerintah melakukan operasi pasar. Namun, di lapangan banyak yang salah sasaran. Niat baik pemerintah untuk menstabilkan (menurunkan) harga minyak goreng disalahgunakan oleh beberapa oknum. Tentu saja hal ini sangat disayangkan.

Saat ini, isu yang paling banter adalah isu BBM. Paling tidak selama bulan April dan Mei 2008 masyarakat sudah digelisahkan dengan isu adanya kenaikan bahan bakar minyak. Pemerintah melakukan tarik ulur tentang kenaikan harga BBM. Ini merupakan masalah yang serius.

Kenaikan harga minyak mengandung efek domino. Hampir tidak ada barang yang tidak memanfaatkan BBM. yang paling sederhana pengangkutan barang dari produsen ke konsumen. Pemindahan ini selalu menggunakan bahan bakar minyak. Apabila harga BBM naik, maka harga-harga akan naik. Kita perlu mewaspadai inflasi yang terlalu tinggi, mengingat daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat krisis ekonomi yang melanda negeri kita tercinta sejak tahun 1997/1998.

Kenaikan harga bahan bakar minyak ini juga akan meningkatkan jumlah penduduk miskin. Penduduk miskin semakin tidak mampu membeli barang-barang kebutuhan pokok. Beberapa televisi telah menayangkan kesengsaraan rakyat akibat tidak dapat membeli beras. Mereka makan sehari sekali atau bahkan tidak makan. Bahkan ada yang harus makan nasi aking, atau ada kepala rumah tangga yang nekad mengajak seluruh anggota keluarga untuk bunuh diri dengan meminum racun serangga akibat tekanan ekonomi yang amat sangat. Manusia menjadi kehilangan akal.

Tidak dipungkiri bahwa kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga minyak adalah baik karena pemerintah berusaha mempertahankan kondisi perekonomian. Namun apakah pemerintah sudah siap dengan konsekuensi yang harus ditanggungnya? Pemerintah menyebutkan bahwa dana subsidi minyak akan dialihkan ke Bantuan Langsung Tunai. Apakah bantuan semacam ini efektif? Apakah tidak menimbulkan ketergantungan para penduduk miskin?

Secara sederhana, saya, orang kampung yang tidak tahu tentang politik dan perminyakan, bertanya: mengapa kita yang kaya akan sumber daya alam harus menderita? Mengapa sumber daya alam yang banyak tidak dapat menyejahterakan penduduknya? Bayangkan saja, kita memiliki cadangan minyak yang sangat besar. Mengapa kita harus kesulitan akan minyak?

Idelnya, kalau harga minyak dunia naik, justru kita merasa senang karena negara kita termasuk pengekspor minyak. Kita punyak banyak ladang minyak yang dapat disedot beratus-ratus barel per hari. Bayangkan saja dari harga $70an per barel sekarang mencapai $124an per barel. Harusnya kita tambah kaya, tapi kok malah bingung…??? Hal inilah yang menyebabkan orang-orang kampung macam saya bingung. Tapi kenyataannya kok malah menyengsarakan??

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya membaca koran, di Gunung Kidul sudah ada lembaga pemerintah yang memanfaatkan gelombang untuk menggerakkan pembangkit listrik, UMY juga sudah membuat hidrofuel, di beberapa tempat di Yogyakarta sudah ada biogas, di Kalimantan sudah ada penduduk yang memanfaatkan listrik tenaga surya, dan masih banyak daerah lain yang memanfaatkan potensi yang ada di sekitar untuk pemenuhan kebutuhan energi. Akan lebih baik bila pemerintah mendorong penduduk yang kreatif untuk menciptakan sesuatu yang berdaya guna.

Banyak penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi, namun penelitian itu hanya disimpan di perpustakaan. Jarang ada peneliti yang mau membuka keilmuannya untuk kemajuan bersama, hasil penelitian hanya diketahui oleh dirinya dan dosen pembimbing dan pengujinya. Sudah hanya sebatas itu, Mengapa penelitian tidak ditindaklanjuti…??

Kembali ke permasalahan minyak, andaikan memang pemerintah harus menaikkan harga minyak, sebaiknya pemerintah memberikan penyadaran kepada masyarakat akan energi alternatif yang sebenarnya melimpah ruah di negeri kita. Kita sadarkan masyarakat akan biogas, misalnya. Masyarakat kita ajak kembali ke alam. Limbah dari biogas dapat kita manfaatkan sebagai pupuk organik yang sangat menyuburkan tanah. Berdasarkan beberapa literatur yang telah saya baca melalui internet, 1 meter kubik setara dengan 1 liter solar. Ini sudah cukup untuk memasak satu atau dua atau bahkan tiga keluarga sehari. Dengan demikian keluarga tidak tergantung pada minyak tanah. Bahkan penelitian menunjukkan bahwa emisi biogas lebih ramah lingkungan daripada emisi bahan bakar fosil.

Andaikan masyarakat sudah menggunakan biogas, maka keresahaan masyarakat akan rendah, atau setidaknya masyarakat tidak tergantung pada minyak. MEreka sudah memiliki energi alternatif yang dapat digunakan dalam rumah tangga. Namun permasalahannya, ini membutuhkan kerelaan dari mereka yang memahami masalah ini untuk menularkan pengetahuannya pada masyarakat. Kita itu satu BANGSA.

Bisakah kita menggantikan energi minyak dengan energi yang lain, dengan kos yang lebih murah?
Minyak…minyak… nasibmu….

One Response

  1. Kalau minyak goreng sebenarnya Indonesia tidak terlalu kuatir, karena di Pulau Sumatera dan Kalimantan sawit merupakan komoditi yang melimpah hanya saja pemerintah belum mem-follow up hasil bumi tersebut, apalagi sikap bangga para petani yang hanya bisa menjual bahan mentah sehingga belum ada barang setengah jadi yang bisa menambah nilai jual barang tersebut (termasuk saya yang selama ini panen & jual) karena pemerintah belum mensosialisasi atau memberikan pelatihan serta memberikan kredit lunak untuk pengolahan minyak sawit. Saya pernah dengar Indonesia hanya bisa mengolah batang dan kulit kelapa sawit untuk diolah sedangkan biji kelapa sawit hanya diexport (koyo jare wong jowo nek panen pari menir ro dedake dipangan dewe nanging berase sing wis ditapeni didol lan dipangan wong londo) benar tidak ya?????? Nasibmu oh kelapa sawit……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: