Peduli Bumi…

Saya merasakan bahwa iklim semakin lama semakin panas. Ketika saya masih kecil, aku paling sore mandi jam 17.00 karena setelah jam tersebut saya merasakan air yang saya gunakan untuk mandi terasa sangat dingin. Terlebih ketika musim dingin tiba, pada saat sabun membelai kulitkku, terlihat uap seakan saya adalah orang yang sakti. Pada musim dingin tiba pula, ketika saya bicara terlihat uap yang keluar dari mulutku seiring dengan bergetarnya pita suara.

Ketika aku kecil, aku diajak tamasya ke Kaliurang bersama keluarga. Sepanjang perjalanan kami bergembira dan meluapkan kegembiraan itu dengan nyanyian. Berbagai macam nyanyian kami suarakan walaupun sumbang. Tertawa dan tertawa. Ketika sampai di Kaliurang, kami main di Telaga Putri. Saya merengek kepada Ayah dan Ibuku agar beliau mengijinkan aku untuk berenang. Dengan banyak memaksa, akhirnya mereka memperbolehkan aku untuk berenang. Apa yang terjadi? Saking girangnya, saya langsung terjun ke kolam renang di Telaga Putri. Begitu tubuhku masuk ke air, aku langsung kedinginan. Badanku langsung menggigil. Wah begitu dingin…. Aku langsung naik ke atas, dan langsung mengeringkan badanku dengan handuk di bawah sinar matahari. Aku kecewa, mengapa aku tidak dapat menahan dingin? Mengapa aku tidak “sumbut” dengan rengekanku pada orang tuaku? Setelah beberapa saat orang tua dan keluargaku memanggilku untuk segera meninggalkan Telaga Putri dan melanjutkan ke Gua Jepang, dan beberapa objek wisata di Kaliurang. Pengalaman masa kecil yang menyenangkan sangat berkesan dalam lubuk hatiku.

Indahnya pemandangan sekeliling Kaliurang yang hijau menyejukkan pandangan mata. Saat ini aku berpikir, mungkin pohon-pohon itu yang membuat hawa di Kaliurang dingin. Pohon yang besar-besar, beraneka satwa masih tampak di kaliurang. Bahkan, monyet-monyet kadang turun ke bawah mengambil makanan yang dijual pedagang di sekitar Telogo Putri. Keindahan dan kesejukan lingkungan memberikan kenyamanan dalam hatiku.

Namun, saat ini setelah melihat keadaan sekitar kaliurang, terlebih setelah gempa bumi melanda kota Yogya bulan Mei 2006, aku tercengang. Sekarang aku lihat punggung sisi selatan Gunung Merapi gundul. “Geger Boyo” yang nota bene digunakan untuk menahan luapan lava yang meluncur ke Kaliurang sudah tidak ada lagi akibat diterjang lava saat Merapi “batuk” pada saat yang bersamaan dengan gempa. Juga di sisi timur dan barat Gunung Merapi, keadaannya sama, sama-sama gersang.

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia menjadi tuan rumah konferensi dunia tentang pemanasan global. Kita juga ikut latah. Banyak masyarakat mencoba menanam pohon. Instansi-instansi pemerintah juga ikut membagi-bagikan tanaman kepada masyarakat secara gratis seperti tanaman jati, mangga, sawo dan sebagainya. Harapannya masyarakat mau menanam pohon tersebut di lingkungan rumahnya.

Secara pribadi saya juga meminta kepada para mahasiswa untuk menanam pohon yang berakar tunggang minimal dua pohon. Pada awal saya meminta, reaksi mahasiswa spontan, di mana kami akan menanam pohon? kita-kita orang kos… Saya menjawab dengan ringan, tanam saja di pot atau polibag, kalau saudara pulang ke daerah asal, pohon tersebut bisa di bawa dan ditanam di sana. Bibitnya dari mana pak? apakah bapak mau menyediakan bibitnya? Jawabku, setiap kali saudara makan buah-buahan, jangan dibuang bijinya, tanamlah di polibag dulu. Setelah itu baru di tanam di tanah. Bayangkan, apabila saudara makan jeruk, ada berapa biji jeruk dalam satu buahnya? Biji-biji itu bisa di”deder” dan ditanam. Itu langkah mudah yang dapat dilakukan.

Seminggu setelah saya meminta mahasiswa untuk menanam pohon, saya menanyakan kembali apakah sudah menanam pohon??? Kebanyakan mahasiswa mengatakan belum. Waduh… saya agak kecewa. Namun kekecewaan tersebut agak terobati setelah saya mengetahui ada beberapa mahasiswa yang sudah mencoba menanam pohon di rumah. Mahasiswa mendapatkan bibit dari kocek mereka sendiri, tanpa ada jatah dari instansi pemerintah maupun LSM.

Secara pribadipun, saya mencoba untuk mengikuti kata hati saya. Saya mencoba menanam beberapa pohon di kebun yang ada. Bibit yang saya tanam, saya peroleh dengan cara mencari di bawah pohon-pohon mahoni yang banyak ditanam di sekitar kampus. Lumayan, mendapat bibit secara gratis. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa memetik hasilnya, tetapi minimal anak atau cucu saya kelak dapat memanfaatkan kayu yang harganya melambung tinggi, seiring dengan berkurangnya hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, maupun daerah-daerah lain.

Harian kompas pernah menulis bahwa hutan di Sumatra akan habis sekitar 5 tahun lagi, hutan di Kalimantan akan habis 10 tahun lagi dan hutan di Papua akan habis 15 tahun lagi. Kondisi ini terjadi apabila pola penebangan pohon yang terjadi selama ini terus berlangsung. Berkurangnya hutan-hutan tersebut aku buktikan sendiri aku menapakkan kaki di ketiga pulau tersebut. Berita-berita di televisipun menguatkan pengalamanku di ketiga pulau tersebut. Amat disayangkan, hutan-hutan tropis yang sedianya menjadi paru-paru dunia kini hampir musnah.

Setelah aku pikir lebih lanjut, komitmen mereboisasi hutan-hutan yang gundul tidak diimbangi dengan kebijakan-kebijakan di bidang lain. Amat ironis, di satu sisi kita menanam pohon, namun di sisi lain motor, mobil, pesawat, kapal, pabrik, pewangi/deodoran, sabun dan sebagainya tidak dikendalikan. Barang-barang tersebut menciptakan polusi dan menyebabkan iklim dunia semakin panas. Ekspansi perusahaan di daerah yang subur dan di sekitar hutan ikut berpartisipasi dalam panas global.

Akankah pemerintah membatasi produksi barang-barang yang secara langsung maupun tidak langsung? Apabila iya, bagaimana nasib ribuan bahkan jutaan orang yang hidupnya tergantung pada perusahaan tersebut?

Akankah pemerintah membuat kebijakan yang humanis? Akankah DPR bersama dengan pemerintah memikirkan alam untuk kesejahteraan bangsa? Bagaimana pemerintah membatasi perusahaan dalam eksploitasi sumber alam khususnya sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui?

Akankah pemegang HPH memperhatikan hutan yang dikelolanya?

Akankah kesejahterahaan dan kemakmuran terjadi di negeri yang “Gemah Ripah Loh Jinawi?”. Kapan hal itu terjadi?

widanarto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: