Pembelajaran Berbasis Otak

Wow… siapa sangka…. bahwa otak kita juga dapat dipilah-pilah menjadi beberapa bagian. Otak dapat digambarkan sebagai sebuah gedung film. Terkadang gedung film tersebut menyajikan film action, terkadang film drama, terkadang film thriller, terkadang film komedi dan sebagainya. Pada saat gedung film tersebut menyajikan film thriller maka yang ada dalam keseluruhan film tersebut terkait dengan adegan-adegan yang menyeramkan. Demikian juga bila film drama atau komedi yang diputar.

Cara kerja otak pun sama dengan hal tersebut. Setiap hari kita mengalami berbagai peristiwa, ada yang menyenangkan, ada yang membingungkan, menyebalkan, menyedihkan, memarahkan, dan sebagainya. pada saat kita merasa senang maka otak memerintah tubuh kita untuk mengekspresikan rasa senang tersebut. Ekspresi senang dapat diungkapkan dengan tertawa, berjingkat-jingkat, bahkan sampai kita menangis karena kita sangat senang. Pada saat senang diputar dalam otak kita, maka rasa yang lain tidak dimainkan.

Beberapa ahli membagi otak dalam dua kategori yaitu otak kanan dan otak kiri. Belahan kanan berfungsi untuk proses holistik dan belahan kiri untuk proses analitik. Pada saat lalu, pendidikan di Indonesia lebih menekankan sisi Kognitif saja (mungkin sampai pada saat ini). Indikator keberhasilan pendidikan diukur dari hasil ulangan atau ujian. Semakin siswa mendapat nilai tinggi, maka semakin dikatakan pandai. Demikian pula sebaliknya. Pendidikan yang semacam ini lebih menekankan perkembangan pada otak kiri. Sementara perkembangan otak kanan “terabaikan”.

Terkait dengan pemkembangan pembelajaran yang terkait dengan cara kerja otak dan mengembangkan kedua belahan otak tersebut, maka guru perlu menggunakan strategi pembelajaran yang terkait dengan emosional, sosial, kognitif, fisik, dan reflektif.

Sistem pembelajaran emosional, mensyarat proses belajar didukung oleh iklim kelas yang kondusif bagi keamanan emosional dan relasi personal. Dalam hal ini guru berperan sebagai mentor, menunjukkan antusiasme yang tulus terhadap anak didik, membantu siswa menemukan hasrat belajar, membimbing mewujudkan target pribadi yang realistik, mendukung siswa mencapai apa yang mereka inginkan.

Dalam pembelajaran sosial, siswa memiliki hasrat untuk menjadi bagian dari kelompok, ingin dihormati, dorongan untuk mengalami perhatian dari orang lain. Peran guru dalam hal ini adalah:
1. Mengelola sekolah sebagai komunitas pelajar
2. Menciptakan ruang tempat guru dan murid bekerja sama dalam penugasan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah
3. Guru dan murid saling berhubungan sebagai struktur “keluarga”
4. Memberikan penghargaan dan perhatian untuk kelebihan mereka (apa pun kelebihan mereka)
5. Menerima perbedaan sebagai berkah individu untuk dihormati
6. Memaksimalkan perkembangan sosial melalui kerja sama tulus.
7. Berkolaborasi dengan siswa sebagai mitra yang setara.
8. Meningkatkan toleransi dan pemahaman akan perbedaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: